Nasib Guru Honorer
Sebut saja Ibu Kinan yang mengajar sebagai seorang guru honorer di SD Padjadjaran. Sudah sekitar 20 tahun beliau mengabdi mentransfer ilmu yang dimiliki demi pengetahuan dan perkembangan anak didiknya sebagai dedikasinya untuk masa depan bangsa.
Namun yang terjadi tidak seperti yang kita bayangkan, siapa sangka dengan masa kerja yang sekian lama yakni sektar 20 tahun-an, beliau waktu itu mendapat honor hanya sebesar 30 ribu rupiah saja. Sungguh meringis memang, padahal diakui atau tidak orang-orang yang duduk dipemerintahan yang menjabat saat ini atau sebelumnya sudah barang tentu melalui sentuhan seorang guru terlebih dahulu yang mendukung sejarah masa lalunya, meskipun konotasinya bisa diartikan umum. Dan pada tahun 2007 ini untuk bulan september dan oktober honor yang seharusnya beliau terima belum beliau terima sampai bulan november ini.
Ini hanya sekelumit mengenai fenomena pengangkatan guru bantu yang ada di Indonesia.
Tidak sedikit terdapat kejadian yang menyakitkan hati para guru honorer yang sudah mengabdi sekian tahun. Ini dikarenakan adanya ‘kecurangan’ dalam pengangkatan guru menjadi PNS. Terlepas dari kasus yang sudah menjadi rahasia umum ini di hati para guru yang paling dalam tentunya bukan itu tujuan utama mengabdi, namun demi bekal masa depan anak didik kelak.
| Get Paid to Write! Write your opinion, earn money. Min $6 up to $60 http://www.smorty.com |
ADVERTISEMENT
Seseorang sedang mencoba mencetak sejarah, setelah Milton Glaser menciptakan logo I heart NY pada 1976, giliran pelaku kreatif dari Indonesia yang melakukannya.
Adalah Eko Punto Pambudi dia menciptakan icon seperti yang ada d samping ini, ikon yang dia ciptakan untuk Jakarta mengikuti jejak I heart NY cukup simpel dan mudah dipahami. Penggunaan "GW", bukan "Gue" atau "Saya" mencerminkan dinamika kota yang dinamis dan compact. Heart dibuat terbalik agar—bersama hurup "T"—membentuk ikon Jakarta, yaitu tugu Monas.
Seperti halnya logo I heart NY, icon ini bisa kita dapetin dalam bentuk kaos salah satunya, yang bisa dipesan pada situs resminya di sini.











November 28th, 2007 at 4:02 pm
fenomena guru bantu itu miris hati apalgi karena latar belakang sy itu UPI [univerdsitas pendidikan indonesia]…kalau saja pengangkatan ini rapi dan terstruktur dgn manajemen yang santun dan berkala maka mungkin maslaah ini tidak akan terjadi [walau masalah lain pasti akan timbul -- apapaun itu]. maslaah pemerintah itu tidak akan berakhir karena mereka ngurus rakyat yang berjuta-juta….tapi setidaknya daerah pital seperti pendidikan tidak harus mengalami manajemen buruk yang memperkeruh situasi: membuat orang malas jadi guru [termasuk saya]. sayang ya, krn banyak orang berbakat bisnis, musik, dan juga ngajar. sy percaya ngak sembarang orang bisa ngajar…maklum itupun bakat!
December 7th, 2007 at 9:46 am
Iya kasian banget yang jadi guru. Bokap gue kan dulunya guru SD jadi gue tau banget. Tahun 2003, terakhir bokap dapet uang pensiunan guru, cuman 600 ribuan/bulan. Karena sekarang bokap dah meningal tinggal 300 ribuan aja yang didapet. Poor me…..