Rumah makan Cibiuk episode 2


+ Nyampe jam 17.33
Gada siapa2 d lokasi nah lho… Bhima SMS ngabarin kalo dia gk jadi dtg, abis itu telpon Puty deh sapa tau dia udah siap buat berangkat, dan dia juga sama berhalangan hadir, hum siapa lagi ya… InDhry jga sama dg yang lain berhalangan karena acara keluarga… hum sungguh hari sabtu ini memang khusus untuk menyendiri kayaknya.
+ waktu pkl 18.05
Nitnot mengabarkan kalo dia kehabisan kereta dari Jakarta, jadinya sama keputusannya. Sambil menunggu siapa tau akan ada yang menemani, d putarlah radio KLCBS 100,4 FM dan Trijaya Bandung 91.3 FM bergantian… biar gk ngerasa terlalu sendiri d lokasi, tak terasa makin malem aja nih.
Jadi teringat kura-kura Brazil yang aku temuin tadi sore d Ciwalk sebelum dtg k lokasi. Pgn beli ah hari minggu ini, InsyaAllah… hehe…
Angga-pun demikian, sepertinya sibuk juga nih sehingga berhalangan hadir. Gpp… yup memang waktunya untuk menikmati kesendirian sepertinya…
***
Sempetin bwt telpon ‘dia’ ah… ternyata ada d rumah mau pergi sih tapi masih nunggu kakaknya, ya sudah sambil menunggu sambil ngobrol kan asyik tuh hihi… (cozy)
Waktu kian menyempit, masih pengen berlama-lama sebenarnya d sana karena udah berada di spot yang paling nyaman d Rumah Makan Cibiuk, dipilih spot lesehan di atas kolam ikan, dan ikan-ikan itulah yang menemani malamku heuheu… mreka sampai gigit-gigit mesra jari jemariku, hum ikan-ikan mas yang menyenangkan, come to papa haha (makin kacau). Setelah menghabiskan pesenan Nasi tutug oncom + jus alpukat akhirnya beranjak pergi meninggalkan tempat yang nyaman itu, cz gk enak kalau lama-lama keburu mo tutup rumah makannya hehe…
Begitulah perjalananku dalam sabtu sendiri…
Sumber gambar:
+ http://www.thebandung.com/Kuliner/CafeResto/Cibiuk/tabid/258/Default.aspx
+ http://asnugroho.wordpress.com/2007/03/11/melihat-ikan-koi-di-shirotori-garden-nagoya/
ADVERTISEMENT
Seseorang sedang mencoba mencetak sejarah, setelah Milton Glaser menciptakan logo I heart NY pada 1976, giliran pelaku kreatif dari Indonesia yang melakukannya.
Adalah Eko Punto Pambudi dia menciptakan icon seperti yang ada d samping ini, ikon yang dia ciptakan untuk Jakarta mengikuti jejak I heart NY cukup simpel dan mudah dipahami. Penggunaan "GW", bukan "Gue" atau "Saya" mencerminkan dinamika kota yang dinamis dan compact. Heart dibuat terbalik agar—bersama hurup "T"—membentuk ikon Jakarta, yaitu tugu Monas.
Seperti halnya logo I heart NY, icon ini bisa kita dapetin dalam bentuk kaos salah satunya, yang bisa dipesan pada situs resminya di sini.






